Gejala Infeksi Anisakis Simplex Akibat Makan Makarel Kaleng

Gejala Infeksi Anisakis Simplex Akibat Makan Makarel Kaleng,- Beberapa waktu lalu masyarakat dibuat resah dengan beredarnya kabar mengenai produk makarel kalengan yang terinfeksic acing jenis nematoda, Anisakis Simplex. 

Mengenai hal tersebut, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI telah mengeluarkan perintah kepada produsen makarel kaleng yang diketahui bercacing untuk menarik produknya dari pasaran. 

Walaupun begitu, masih ada yang mengganjal di benak masyarakat, apakah berbahaya jika terlanjur mengonsumsi makarel kaleng yang mengandung cacing ?


Ahli parasitologi FK UI, Saleha Sungkar, menegaskan bahwa makarel berkaleng tersebut aman untuk dikonsumsi karena larva cacing Anisakis simplex telah mati. Proses pemanasan saat ikan dikemas dalam kaleng telah berhasil membunuh cacing parasit sehingga tidak berbahaya. 

Penyakit akibat infeksi cacing memang bisa saja menimpa manusia, tetapi tidak dalam kasus makarel kaleng. Infeksi cacing Anisakis pada manusia cenderung terjadi setelah mengonsumsi olahan ikan secara mentah seperti sushi dan sashimi. Larva yang terbawa dari ikan kemungkinan masih hidup karena tidak pemanasan dan proses memasak yang matang secara sempurna. 

Manusia terinfeksi karena ikan mentah tersebut telah tercemar larva stadium 3 atau stadium 4. Larva stadium 3 yang dimaksud adalah larva berukuran 100-200 mikro yang menumpang tinggal pada organ pencernaan ikan laut. Larva ini berwarna putih kemerahan, dan pada bagian anterior terdapat gigi pengebor sebagai senjata untuk menyusup ke tubuh inangnya. 

Saleha menyebutkan bahwa pada manusia, larva ini akan mendiami dan menempel pada mukosa lambung dan usus. Kendati demikian, larva di tubuh manusia tidak sampai berkembang menjadi dewasa dan hanya mengalami peningkatan stadium menjadi 4 yang ditandai dengan pergantian kulit.


Secara terpisah, Peneliti Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI, Kartika Dewi menambahkan, larva berhenti siklus hidupnya karena manusia bukan inang sebenarnya. Pada manusia, larva akan mati dan menimbulkan peradangan, menyebabkan alergi, dan menyumbat usus.

Mamalia laut, seperti lumba-lumba, beruang laut, singa laut, dan paus, merupakan hospes atau induk semang sesungguhnya yang dibutuhkan larva tersebut untuk bisa berubah menjadi cacing. 

Gejala Infeksi Anisakis Simplex yang Perlu Diwaspadai

Saleha juga menyampaikan, jika dalam waktu 1 sampai 7 jam setelah mengonsumsi ikan laut mentah, Anda menunjukkan reaksi seperti muntah tanpa henti selama 5-10 menit, Anda perlu mewaspadai infeksi cacing jenis nematoda ini. Terlebih lagi jika ditambah dengan nyeri pada bagian ulu hati. 

Hal ini disebabkan karena jika larva mendesak dinding lambung, maka gastritis pun tidak terhindarkan. Nyeri hebat akan dirasakan pada daerah ulu hati sehingga berdampak pada timbulnya kolik, mual, muntah, muntah darah (hematemesis), diare, sakit di dada, serta gatal-gatal pada kulit. 

Kemudian larva tidak betah bermukin pada satu bagian tubuh. Reaksi penyakit anisakis, bisa menjalar ke bagian tubuh lainnya tergantung pada pergerakan larva. 

Jika menyerang esofafus (kerongkongan) dan menempel pada faring (tenggorokan) maka respons tubuh yang keluar berupa batuk dan rasa gatal bersamaan dengan pengeluaran air liur dan buang air besar. 

Penyakit anisakiasis juga bisa menyerang usus halus. Tanda gejala yang ditunjukkan yaitu diare yang bergantian dengan sembelit setelah 1 sampai 5 hari mengonsumsi ikan mentah yang dicurigai terkontaminasi larva cacing Anisakis.

Terkadang, bisa terjadi feses yang bercampur darah. Gejala tersebut ada yang disertai dengan demam ringan atau tidak demam sama sekali. Infeksi cacing pada usus halus di bagian distal ileum atau sekum menyebabkan perut bagian abdomen tiba-tiba sakit yang dibarengi dengam ual, muntah, dan iritasi peritoneal (membran yang membungkus perut). 

Untuk kasus tertentu, terkadang larva sanggup berpindah hingga rongga pleura sehingga menyebabkan peritonitis atau pleuritis. 

Saleha pun berpesan bahwa penyakit anisakis bisa sembuh dengan sendirinya selama tidak merembet hingga ke organ selain pencernaan. Deteksi dini melalui gastrokopi dan USG diperlukan untuk mengamati sejauh mana pergerakan larva. Pembedahan baru akan dilakukan jika penyakit tersebut dialami menahun. 

Sedangkan reaksi inflamasi akibat larva bisa ditekan dengan kortikosteroid atau obat albendazol. 

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Gejala Infeksi Anisakis Simplex Akibat Makan Makarel Kaleng"

Posting Komentar