Mewaspadai Difteri, Penyakit Infeksi yang Mengancam Jiwa

Mewaspadai Difteri, Penyakit Infeksi yang Mengancam Jiwa,- Saat ini Indonesia tengah diserang oleh wabah penyakit difteri. Bahkan Kementerian Kesehatan sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) karena penyakit mematikan yang disebabkan bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah memakan puluhan korban jiwa setidaknya di 20 provinsi.

Difteri sendiri merupakan infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, dan terkadang dapat memengaruhi sel kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa. 

Penyebaran penyakit ini sangat masif, yaitu melalui cara menghirup cairan dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi, kemudian dari jari-jari atau handuk yang sebelumnya telah terkontaminasi, dan melalui susu yang terkontaminasi penderita. Melalui cara tersebut, difteri dapat dengan mudah menular pada mereka yang rentan serta yang tidak mendapatkan vaksin difteri.


Dalam sejarah, penyakit difteri pernah dicatat Hipocrates pada abad ke 5 SM. Penyakit ini ditandai dengan terbentuknya lapisan yang khas pada selaput lendir saluran napas yang dapat menyebabkan kematian akibat sumbatan saluran napas atas atoksin-nya yang bersifat patogen mampu menimbulkan komplikasi miokarditis (peradangan pada lapisan dinding jantung bagian tengah), gagal ginjal, gagal napas dan gagal sirkulasi. 

Secara umum, gejala difteri dapat berupa demam yang tidak begitu tinggi, yaitu 38 derajat celcius, timbulnya pseudomembran atau selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan, sakit saat menelan, kadang-kadang disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembengkakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck. 

Langkah pencegahan harus dilakukan bersama-sama dengan tindakan deteksi dini kasus, pengobatan kasus, rujukan kerumah sakit, mencegah penularan, dan memberantas karier atau pembawa kuman penyakit. 

Upaya pencegahan secara khusus juga ditunjukkan kepada masyarakat. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau pada masyarakat untuk melakukan langkah-langkah berikut untuk menjaga sekaligus menghindari risiko paparan eabah difteri pada anak, diantaranya :
  • Kenali gejala difteri
  • Segera bawa anak ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat jika ia mengeluhkan nyeri tenggorokan disertai dengan suara berbunyi seperti mengorok (stridor), khususnya anak yang berusia kurang dari 15 tahun. 
  • Anak harus segera dirawat di rumah sakit jika dicurigai mendeita difteri agar segera mendapatkan pengobatan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah anak benar menderita difteri.
  • Untuk memutuskan rantai penularan, seluruh anggota keluarga harus segera diperiksa dokter untuk mengetahui apakah mereka juga mengidap atau menjadi karier difteri. Selain itu juga untuk mendapatkan pengobatan (eritomisin 50mg/kg berat badan selama 5 hari).
  • Anggota keluarga yang telah dinyatakan sehat, segera dilakukan imunisasi DPT.
  • Jika sebelumnya belum pernah mendapatkan DPT, maka diberikan imunisasi primer DPT 3 kali dengan interval masing-masing 4 minggu.
  • Jika imunisasi belum lengkap, maka sebaiknya segera dilengkapi (lanjutkan dengan imunisasi yang belum diberikan, tidak berlu diulang), kemudian jika telah lengkap imunisasi primer (< 1 tahun) perlu ditambah imunisasi DPT ulangan 1 kali. 
  • Masyarakat harus mengetahui dan memahami bahwa setelah imunisasi DPT, kadang-kadang timbul demam, bengkak dan nyeri di tempat suntikan DPT, yang merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam beberapa hari. Bila anak mengalami demam atau bengkak di tempat suntikan, boleh minum obat penurun panas sehari 4 x sesuai umur, sering minum jus buah atau susu, serta pakailah baju tipis atau segera berobat ke petugas kesehatan terdekat.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Mewaspadai Difteri, Penyakit Infeksi yang Mengancam Jiwa"

Posting Komentar