Mengenali dan Mewaspadai Infeksi Leptospirosis pada Anak

Saat musim hujan, tidak jarang banjir menyerang dan memicu timbulnya beragam penyakit. Meskipun banjir sudah surut, namun berbagai penyakit tetap saja mengintai, termasuk pada anak-anak. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai pada anak-anak pasca banjir adalah leptospirosis. 


Leptospirosis adalah infeksi yang disebabkan oleh Sprirochete Leptospira Interogans. Jenis penyakit ini merupakan zoonosis, yaitu penyakit yang dapat ditularkan melalui hewan ke manusia. Bakteri leptospira ini bisa menjangkiti banyak jenis hewan, salah satunya adalah tikus. Bakteri ini masuk ke tubuhg manusia melalui selaput lendir di mata dan hidung, kulit yang terluka, dan juga konsumsi makanan yang tercampur urin hewan yang terinfeksi leptospirosis.

Anak kecil sangat rentan terkena leptospirosis karena sering bermain di luar. Bahkan mereka lebih rentan terinfeksi dibandingkan dengan orang dewasa, karena mereka tidak memiliki imunitas bawaan.

Menangani penyakit leptospirosis pada anak tidaklah mudah, hal ini disebabkan karena gejala awalnya sangat samar dan terlihat hampir sama dengan infeksi umum pada anak-anak, seperti flu. Banyak orangtua yang salam mengira infeksi ini dan tidak mencari pertolongan dokter, sehingga terlambat untuk diatasi.

Walaupun tahap awal gejala leptospirosis sangat mirip dengan flu biasa, tapi sebaiknya orangtua segera memeriksakan anak ke dokter jika memang ia pernah terpapar risiko penyakit ini sebelumnya. Anak-anak sendiri sulit mengenali beberapa gejalanya, seperti sakit kepala, nyeri otot, dan sebagainya karena terasa sangat ringan untuk bisa dikenali.

Terkadang, infeksi leptospirosis juga menunjukkan gejal ayang sama dengan meningitis, yaitu ruam emrah pada kulit yang tidak memudar ketika ditekan menggunakan gelas, tidak suka melihat cahaya dan terkulai, serta terlihat mengantuk. Gejala-gejala seperti ini sudah pasti merupakan tanda infeksi serius dan anak harus segera mendapatkan penanganan medis.

Pada bayi yang berusia dibawah 6 bulan, mereka masih belum memiliki sistem imun yang baik. Sehingga mereka mengandalkan ibu mereka untuk melawan infeksi tersebut (mencium wajah mereka akan mengumpulkan contoh patogen dan menciptakan antibodi yang dikeluakran lewat ASI.

Walaupun begitu, hal ini tidak bekerja pada leptospirosis, karena bakteri ini biasanya tidak terdapat di air liur. Selain itu, bayi juga tidak bisa mengutarakan gejala yang mereka alami sehingga sulit untuk mendeteksi pada tahap awal infeksi, kecuali jika terdapat ruam. Orangtua yang memiliki bayi yang mungkin berpotensi terpapar leptospirosis, harus selalu mencari saran spesifik dari dokter.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Mengenali dan Mewaspadai Infeksi Leptospirosis pada Anak"

Posting Komentar