Panduan Pencegahan Infeksi Akibat Pembedahan Menurut WHO

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru saja menerbitkan rekomendasi bagaimana cara menghentikan kasus resistensi dan infeksi yang berhubungan dengan pembedahan yang terus meningkat. Rekomendasi yang terdiri dari 29 buah ini juga diterbitkan dalam The Lancet Infectious Diseases dirancang untuk menahan peningkatan infeksi yang dialami oleh pasien dan pekerja medis di seluruh dunia. 


Ke 29 rekomendasi ini terdiri dari 13 rekomendasi sebelum pembedahan dilakukan dan 16 rekomendasi selama dan setelah pembedahan berlangsung. Pandungan yang baru diterbitkan tersebut bertujuan untuk menyelamatkan nyawa, memangkas biaya dan memberangus bakteri dan kuman yang menyebar di rumah sakit ektika orang akan dibedah. Disebutkan dalam panduan ini bahwa orang yang akan menjalankan proses operasi harus mandi namun tidak boleh bercukur.

Direktur layanan dan keamanan WHO, Dr. Ed Kelley, menyatakan jika selama ini bercukur dianggap perlu agar dokter bisa leluasa dalam melakukan pembedahan. Namun, Kelly mengatakan jika pemangkasan rambut bisa meningkatkan risiko sayatan kecil atau trauma pada kulit. Bukti menunjukkan bahwa seharusnya sebelum operasi pasien tidak perlu bercukur, cukup dengan mengikat rambutnya saja.

Selain itu, juga disebutkan bahwa antibiotik hanya digunakan untuk mencegah infeksi sebelum dan selama pembedahan, bukan setelah dilakukan pembedahan. WHO juga menyebutkan bahwa infeksi pada sekitar tempat pembedahan disebabkan oleh bakteri  yang masuk melalui sayatan yang dilakukan oleh ahli bedah. Infeksi ini mengancam nyawa jutaan pasien setiap tahunnya dan berperan dalam menyebarkan resistensi antibiotik.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam JAMA Internal Medicine mengamati penggunaan antibiotik di 383 rumah sakir di Amerika Serikat dan mengungkapkan bahwa lebih dari separuh pasien (tepatnya 55.1%) menerima setidaknay satu dosis antibiotik ketika mereka di rawat di rumah sakit.

Di negara-negara berpendapatan rendah dan menengan, sekitar 11% pasien yang menjalani pembedahan ternyata kemudian terkena infeksi akibat proses tersebut. Di Afrika, sekitar 20% perempuan yang menjalani operasi caesar ternyata terkena infeksi sehingga mengancam kesehatan mereka dan kemampuan mereka untuk merawat bayi yang baru dilahirkannya.

Banyak studi yang menunjukkan bahwa pencegahan dengan berbagai carai secara nyata bisa menurunkan risiko bahaya dari infeksi akibat pembedahan.

Sementara itu, Dr. Marie-Paule Kieny, Asistem Direktur Jenderal Sistem KEsehatan dan Inovasi kepada Fox News mengatakan, "Siapapun tidak boleh ada yang sakit saat mencari dan menjalani proses penyembuhan. Pencegahan infeksi akibat pembedahan selalu merupakan hal yang penting namun memang rumit dan membutuhkan berbagai tindakan. Panduan yang diterbitkan oleh WHO ini merupakan alat yang berharga untuk melindungi pasien."

Namun ternyata infeksi akibat pembedahan bukanlah masalah negara-negara miskin saja. Masih menurut WHO, di Amerika Serikita, infeksi jenis ini menyebabkan penambahan waktu 400.000 hari perawatan di rumah sakit dan pembengkakan biaya hingga USD900 juta pertahun.

Pandungan yang diterbitkan oleh WHO ini merentang dari tindakan pencegahan sederhana seperti memastikan pasien mandi sebelum pembedahan dilakukan, hingga dengan bagaiamana cara terbaik bagi tim bedah untuk membersihkan tangan mereka setelah operasi, disinfektan apa yang digunakan sebelum sayatan pertama dan jahitan seperti apa yang sebaiknya dilakukan terhadap pasien.

Kelley mengatakan kepada The Guardian, "Cepat atau lambat, banyak di antara kita membutuhkan pembedahan. Namun tidak ada orang yang ingin terkena infeksi di atas meja operasi. Dengan penerapan panduan baru ini, para ahli bedah bisa menurunkan tingkat bahaya, meningkatkan mutu kehidupan, dan menghentikan resistensi antibiotik. Kami juga merekomendasikan agar pasien untuk menanyakan kepada ahli bedah apakah mereka mengikuti panduan dari WHO ketika melakukan pembedahan."

Dalam ulasan Consumer Reports terbaru, terungkat bahwa 3.100 rumah sakit emndapat penilaian buruk untuk kemampuan mereka dapat mengendalikan tingkat infeksi clostridium difficile, yaitu bakteri yang dapat menyebabkan gejala mulai dari diare hingga peradangan usus. Diantara rumah sakit-rumah sakit yang mendapat penilaian buruk tersebut, terdapat 19 rumah sakit pendidikan tempat para dokter belajar.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Panduan Pencegahan Infeksi Akibat Pembedahan Menurut WHO"

Posting Komentar